KESALAHAN 01
Tidak Melakukan Survey dan Assessment Area
Aplikasi langsung dilakukan tanpa memahami kondisi area yang akan ditreatment. Padahal setiap bangunan berbeda: luas area, jenis konstruksi, kondisi tanah, kelembapan, akses pekerjaan, hingga indikasi aktivitas rayap.
Survey membantu menentukan:
- area yang membutuhkan treatment
- potensi jalur masuk rayap
- kondisi tanah dan lingkungan sekitar
- akses untuk proses aplikasi
- metode treatment yang sesuai
- kebutuhan pekerjaan berdasarkan kondisi aktual
KESALAHAN 02
Aplikasi Tidak Sesuai Metode dan Spesifikasi
Anti termite bukan sekadar menyemprotkan cairan ke permukaan tanah atau bangunan. Efektivitas treatment bergantung pada metode aplikasi, dosis, tekanan, volume, serta area aplikasi yang sesuai spesifikasi produk dan kondisi proyek.
Jangan hanya melihat “sudah disemprot”:
- Di mana bahan diaplikasikan?
- Bagaimana cara aplikasinya?
- Berapa kebutuhan aplikasinya?
- Apakah seluruh area sudah ter-cover?
KESALAHAN 03
Mengabaikan Area yang Sulit Dijangkau
Rayap dapat memanfaatkan celah dan jalur tersembunyi untuk mencapai bagian bangunan yang rentan. Jika treatment hanya berfokus pada area yang mudah terlihat, beberapa titik potensial justru tidak mendapatkan perlindungan yang memadai.
Pada bangunan eksisting, keterbatasan akses menjadi tantangan tersendiri karena sebagian area sudah tertutup lantai atau elemen bangunan lain. Perencanaan titik aplikasi perlu disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan.
KESALAHAN 04
Tidak Memperhatikan Kondisi Area Setelah Treatment
Pekerjaan anti termite tidak selalu berhenti setelah bahan selesai diaplikasikan, terutama jika terdapat aktivitas konstruksi lanjutan yang berpotensi mengganggu area yang sudah mendapatkan perlindungan.
Pada proyek yang masih tahap konstruksi, pekerjaan berikutnya dapat mengubah kondisi tanah yang sebelumnya telah ditreatment. Anti termite harus menjadi bagian dari perencanaan pekerjaan, bukan pekerjaan terpisah.
KESALAHAN 05
Tidak Melakukan Dokumentasi dan Quality Control
Pekerjaan dianggap selesai setelah aplikasi tanpa pemeriksaan dan dokumentasi yang memadai. Padahal dokumentasi berperan penting untuk memastikan pekerjaan dilaksanakan sesuai rencana.
Quality control dapat mencakup:
- area yang telah ditreatment
- titik atau jalur aplikasi
- metode pekerjaan
- penggunaan material
- hasil pekerjaan
- dokumentasi kondisi lapangan